Rabu, 01 April 2015

Pendidikan Kewarganegaraan (Provinsi)

PROVINSI PAPUA

1.      GAMBARAN UMUM
Papua merupakan Propinsi yang terletak di wilayah paling timur negara Republik Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan. Daerahnya belum banyak dirambah aktivitas manusia dan kaya akan sumber daya alam yang menyajikan peluang untuk berbisnis dan berkembang. Tanahnya yang luas dipenuhi oleh hutan, laut dan keaneka ragaman biotanya dan berjuta-juta tanahnya yang cocok untuk tanah pertanian. Didalam buminya, Papua juga menyimpan gas alam, minyak dan aneka bahan tambang lainnya yang siap menunggu untuk diolah. 


2.      LETAK GEOGRAFIS
Papua terletak pada posisi 0° 19' - 10° 45' LS dan 130° 45' - 141° 48' BT, menempati setengah bagian barat dari New Guinea yang merupakan pulau terbesar kedua dari Greenland. Secara phisik, Papua merupakan Propinsi terluas di Indonesia, dengan luas daratan 21,9% dari total tanah seluruh Indonesia yaitu 421.981 km2, membujur dari barat ke timur (Sorong-Jayapura) sepanjang 1,200 km (744 mile) dan dari utara ke selatan (Jayapura- Merauke) sepanjang 736 km (456 mile). Selain tanah yang luas, Papua juga memiliki banyak pulau yang berjejer disepanjang pesisirnya. Dipesisir utara terdapat pulau Biak, Numfor, Yapen dan Mapia. Disebelah barat pulau Salawati, Batanta, Gag, Waigeo dan Yefman. Dipesisir Selatan terdapat pulau Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan di bagian timur berbatasan dengan Papua Guinea.


3.      IKLIM
Papua terletak tepat di sebelah selatan garis katulistiwa, namun karena daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Di daerah pesisir barat dan utara beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 - 7.500 mm pertahun. Curah hujan tertinggi terjadi dipesisir pantai utara dan di pegunungan tengah, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan. Suhu udara bervariasi sejalan dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan ketinggian 100 m ( 900 feet ); secara rata-rata suhu akan menurun 0,6°C. 


4.      TOPOGRAFI
Keadaan topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipadati dengan hutan hujan tropis, padang rumput dan lembah dengan alang- alangnya. Dibagian tengah berjejer rangkaian pegunungan tinggi sepanjang 650 km. Salah satu bagian dari pegunungan tersebut adalah pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena disana terdapat 3 puncak tertinggi yang walaupun terletak didekat kathulistiwa namun selalu diselimuti oleh salju abadi yaitu puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030m (15.090 ft); puncak Trikora 5.160 m (15.480 ft) dan puncak Yamin 5.100 m (15.300 ft). Sungai-sungai besar beserta anak sungainya mengalir ke arah selatan dan utara. Sungai Digul yang bermula dari pedalaman kabupaten Merauke mengalir ke Laut Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat sepanjang alirannya baik sebagai sumber air bagi kehidupan sehari-hari, sebagai penyedia ikan maupun sebagai sarana penghubung ke daerah luar. Selain itu terdapat pula beberapa danau, diantaranya yang terkenal adalah Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai.


5.      KONDISI TANAH
Di Papua terdapat 6 jenis tanah utama dari 19 jenis tanah yang terdapat di Indonesia, yaitu Podsolik Merah Kuning, Organosol, Alluvial, Latosol, Rensina, Mediteran. Dari sekitar 41,066.000 Ha luas tanah Papua dapat di klasifikasikan kedalam 2 kelompok besar yaitu: areal berhutan, belukar dan alang-alang seluas 40.045.250 Ha atau 97,51 %, areal pertanian, perkebunan, peternakan, pemukiman dan lain-lain 1.020.800 Ha atau 2,49 %.


6.      PENDUDUK DAN ANGKATAN KERJA
Walaupun Papua merupakan Propinsi yang terbesar di Indonesia, namun jumlah penduduknya adalah paling sedikit. Berdasarkan hasil survey penduduk antar sensus (SUPAS) 1995, jumlah penduduk Papua sebanyak 1.942.627 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan 3,03 % pertahun, sedangkan pada tahun1999 sesuai proyeksi penduduk, jumlah tersebut telah berkembang menjadi 2.165.300 jiwa. Apabila dikaitkan dengan luas wilayahnya maka kepadatan penduduk Papua hanya 5 jiwa/km?. Penduduk asli Papua terdiri dari beragam etnik dan yang sudah teridentifikasi sebanyak 250 kelompok etnik. Mereka hidup secara berkelompok dalam unit-unit kecil, saling terpisah dan memiliki adat, budaya dan bahasa sendiri. Jumlah angkatan kerja Papua pada tahun 1999 tercatat sebanyak 988.588 orang dan 93,58 % diantaranya tercatat sebagai pekerja (mempunyai pekerjaan). Sedangkan pencari kerja yang tercatat di Depnaker pada tahun 1999 sebanyak 80.481 orang.


7.      SOSIAL BUDAYA, SUKU DAN ADAT ISTIADAT
Pada daera-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadatnya maka sacara garis besar penduduk Papua dapat di bedakan menjadi 3 kelompok besar yaitu:

·         Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung); mata pencharian menokok sagu dan menangkap ikan.
·         Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, Danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan.
·         Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana.
Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea.

8.      BAHASA
Di Papua terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada. Keaneka ragaman bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh karena itu bahasa Indonesialah yang digunakan secara umum oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan sampai dipelosok-pelosok pedalaman.


9.      AGAMA
Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama, Papua dapat dijadikan contoh bagi daerah lain. Mayoritas penduduk Papua beragama Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari dan ke Papua maka jumlah orang yang beragama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak misionaris baik asing maupun Indonesia yang melakukan misi keagamaannya di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat baik melalui sekolah-sekolah misionaris, pengobatan-pengobatan maupun secara langsung mendidik masyarakat pedalamandalam bidang pertanian, mengajar bahasa Indonesia maupun pengetahuan-pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.





10.  FLORA DAN FAUNA
·         FLORA
Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman khas Papua, termasuk ke dalam famili Sapindaceae. Pohon matoa dapat tumbuh tinggi dan memiliki kayu yang cukup keras. Rasa buahnya adalah campuran antara rambutan, durian, dan kelengkeng. Buahnya berbentuk lonjong dan seukuran buah pinang (keluarga Palem), ketika muda berwarna hijau dan setelah matang berwarna hijau kekuningan atau coklat kehitaman.
Tumbuhan ini adalah flora identitas Provinsi Papua Barat. Di Papua, pohon matoa bisa tumbuh sampai dengan diameter pelukan tiga orang dewasa. Buah Matoa (Pometia pinnata) adalah buah khas asli Papua. Rasa buah ini manis seperti buah rambuatan atau buah kelengkeng. Pohon matoa tumbuh tinggi, dan kayu nya bisa untuk mebel atau kusen – kusen rumah. Buah ini merupakan buah musiman yang berbuah pada bulan September – Oktober. Matoa tumbuh di seluruh wilayah kepulauan Cenderawasih.

·         FAUNA
Burung Cendrawasih layak digelari sebagai Burung Surga (Bird of Paradise). Burung Cendrawasih yang merupakan burung khas Papua, yang teridentitas di Provinsi  Papua Barat, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu yang indah layaknya bidadari yang turun dari surga (kayangan). Keindahan bulu Cendrawasih tiada duanya.
Burung Cendrawasih merupakan sekumpulan spesies burung yang dikelompokkan dalam famili Paradisaeidae. Burung yang hanya terdapat di Indonesia bagian timur, Papua Nugini, dan Australia timur ini terdiri atas 14 genus dan dan sekitar 43 spesies. 30-an spesies diantaranya bisa ditemukan di Indonesia.
Oleh masyarakat Papua, burung cendrawasih dipercaya sebagai titisan bidadari dari surga. Dulunya burung ini dianggap sebagai burung cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turung ke tanah tetapi hanya berada di udara saja lantaran bulu-bulunya yang indah. Karena itu kemudian burung Cenderawasih terkenal sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga (Kayangan). Dan beberapa jenis yang terkenal adalah dari genus Paradisaea yang penamaannya berasal dari kata Paradise.




PROVINSI BALI

Profil

Nama Resmi
:
Provinsi Bali
Ibukota 
:
Denpasar
Luas Wilayah
:
5.780,06 Km2  *)
Jumlah Penduduk 
:
4.165.115 Jiwa *)
Suku Bangsa 
:
Bali
Agama 
:
Islam : 5,2 %, Kristen : 0,8 %, Budha : 0,57 %,Hindu : 93,3 %
Wilayah Administrasi
:
Kab.: 8,  Kota : 1,  Kec.: 57, Kel.: 80, Desa : 636 *)
Lagu Daerah 
:
Janger
Website
:
*) Sumber : Permendagri Nomor 39 Tahun 2015

 

SEJARAH

Pada permulaannya yang datang di Bali  adalah tentara dari kesatuan angkatan darat Jepang (Rikugua) yang tampaknya lebih kejam, bengis dengan pedang selalu ditangan, kemudian setelah pemerintahan sipil mulai disusun, yang mengambil peranan adalah tentara angkatan laut yang disebut kaigen. Pemerintahan sipil ini disebut Menseibu dengan kepalanya Menseibu Chookan berpusat di Singaraja.
Sistem militer yang diterapkan disini menyebabkan pemerintah bersifat militer fasis. Pusat kekuatan militer untuk seluruh Sunda Kecil berada di kota Denpasar dengan kepala militer tertinggi disebut Sirei.
Dalam hal ini walaupun bentuknya adalah pemerintahan sipil, namun selalu berada dibawah pengawasan militer. Setelah pemerintahan sipil dapat diwujudkan aksi propaganda oleh pemerintah Jepang semakin giat dilakukan. Dalam hal ini dibentuk semacam barisan propaganda yang disebut Sendenbu Sedenka.  
Pada tanggal 15 Agustus 1943, dibentuk semacam Dewan Perwakilan Rakyat (Chuoa Sangai In) untuk seluruh Indonesia namun khusus di Bali dibentuk pula badan-badan yang disebut Syu Kaigi, dan para anggotanya disebut Syu Kaigi In serta bukan terpusat di Singaraja.

ARTI LOGO



Bintang persegi lima melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Candi Pahlawan Margarana melambangkan Jiwa Kepahlawanan rakyat Bali.
Candi Bentai melambangkan keagungan.
Rantai melambangkan Persatuan.
Kipas melambangkan Kebudayaan Bali.
Bunga Teratai melambangkan Singgasana Cina.
Padi Kapas melambangkan kemakmuran.

 

NILAI BUDAYA

Hampir sebagian besar kehidupan masyarakat Bali diwarnai dengan berbagai upacara adat, sehingga dapat dikatakan kehidupan spiritual masyarakat Bali tidak dapat dilepaskan dari berbagai upacara ritual. Upacara-upacara diselenggarakan ada yang bersifat kadangkala, namun ada pula yang dilaksanakan setiap hari.
Oleh sebab itu di Bali dapat terlihat dibeberapa tempat terdapat sajian-sajian bekas upacara yang mungkin hanya dilaksanakan secara kecil-kecil saja. Upacara-upacara besar yang diselenggarakan masyarakat pada umumnya sebagai berikut :
1)      Upacara penyambutan kelahiran, dimulai dengan upacara Maralekat yaitu pemotongan ari-ari yang disebut kepus pingsit dan dihubungkan dengan upacara melepas hewan yang menerangkan upacara 12 hari setelah bayi berusia tiga bulan. Untuk golongan bangsawan tahapan upacaranya antara lain : Napak Race, Wawa Mijil, Kepus Udel dan Ninglepas Awon. Sedangkan untuk golongan Bali Aga istilahnya adalah, Tapakan, Kapus Sawen dan Nela Balanu yang ditambah dengan upacara Ngetus Jambat (cukur rambut). 
2)      Upacara turun tanah, pada upacara ini pertama kali agar anak mengenal watak dengan agama dan tradisi hidup. Pada hari itu anak tersebut diberi nama dan diberkahi serta boleh menginjak tanah, sebagian symbol dari dewa-dewa yaitu Brahma, Wisnu dan Sywa.
3)      Upacara potong gigi
Upacara ini berlangsung bagi setiap perempuan yang menjelang dewasa, sebagai tradisi lama yang menggambarkan agar seorang perempuan tidak mirip dengan Leak (yang selalu menonjolkan giginya), walaupun pelaksanaannya secara simbolik.
4)      Upacara pernikahan, dalam tata pernikahan orang Bali mempunyai batasan dengan kastanya, akan tetapi saat ini terdapat adanya pernikahan antar kasta yang berbeda. Misalnya : apabila seorang wanita dari kasta Sudra menikah dengan kasta Kesatrya, maka dia tidak disapa orang lagi dengan langsung menyebut namanya seperti Putu atau Made melainkan harus dipanggil Jero. Apabila terjadi sebaliknya maka wanita tersebut kehilangan gelar kekastaannya.
5)      Upacara kematian, dalam hal kematian khususnya Bali ada jenazah orang yang meninggal tidak dikuburkan kedalam tanah, melainkan hanya diletakkan diatas tanah pada tempat yang dianggap sebagai kuburan sampai tinggal tulang belulangnya seperti di Trunyam. Bagi diletakkan diatas tanah tetapi dibakar yang disebut upacara Ngaben. Digambarkan bahwa apabila seorang yang meninggal dibakar maka akan meringankan rohnya untuk masuk ke alam lain. Mayat yang akan dibakar ditempatkan dalam suatu peti mati yang berbentuk sapi atau garuda. Peti mati berbentuk sapi tersebut berwarna khusus menurut kastanya. Putih untuk Brahmana, Hitam untuk kasta lain.
FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT SETEMPAT
a)      Ngerajenga Agama Budaya Adat Istiadat Jagat Lan Sedaging Jagat Rauhin Kepungkur Wekas, yang artinya masyarakat Bali senantiasa menjaga keajegan/kerukunan agama, adat istiadat bangsa dan negara dari dulu, kini dan yang akan datang.
b)      Harapan masyarakat Bali bagi pemimpinya : Sekadi Prabu Weru Kewicaksana Kadi Singa Kakatakur, Boye Sekadi Sang Mong Kroda,  yang artinya seorang pemimpin harus bersifat adil dan mampu menjaga lingkungannya.
c)      Tri Hita Karana, dimana mengandung makna hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya, dan disamping itu pula dalam kehidupan bermasyarakat terdapat nilai atau pandangan Menyame Beraye (hubungan sosial masyarakat) yang menganggap bahwa siapapun yang ada dilingkungan masyarakat dianggap sebagai saudara termasuk pendatang dari luar Bali.

FLORA DAN FAUNA
§  FLORA

Majegau yang dalam bahasa latin disebut Dysoxylum densiflorum merupakan flora (tumbuhan) identitas provinsi Bali mendampingi jalak bali sebagai fauna identitas. Pohon majegau yang sering disebut juga sebagai cempaga merupakan anggota famili Maleaceae (suku mahoni-mahonian). Tanaman ini memiliki kualitas kayunya yang baik sehingga di Bali banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan (terutama bangunan-bangunan suci) dan sebagai bahan kerajinan ukiran.
Majegau dikenal dengan beberapa nama yang berbeda di berberapa daerah di Indonesia seperti kapinango, maranginan, pingku (Sunda), cempaga, cepaga, kraminan (jawa), majegau (Bali), ampeuluh, kheuruh (Madura), Tumbawa rendai, tumbawa rintek (Minahasa). Dalam bahasa ilmiah (latin) tanaman ini disebut sebagai Dysoxylum densiflorum yang bersinonim dengan Dysoxylum elmeri dan Dysoxylum trichostylum. 

§  FAUNA

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm[1], dari suku Sturnidae. Ia turut dikenali sebagai Curik Ketimbang Jalak.[2] Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa.
Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang.




Referensi :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar