PROVINSI PAPUA
1.
GAMBARAN
UMUM
Papua merupakan Propinsi yang terletak di wilayah paling
timur negara Republik Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan.
Daerahnya belum banyak dirambah aktivitas manusia dan kaya akan sumber daya
alam yang menyajikan peluang untuk berbisnis dan berkembang. Tanahnya yang luas
dipenuhi oleh hutan, laut dan keaneka ragaman biotanya dan berjuta-juta
tanahnya yang cocok untuk tanah pertanian. Didalam buminya, Papua juga
menyimpan gas alam, minyak dan aneka bahan tambang lainnya yang siap menunggu
untuk diolah.
2.
LETAK
GEOGRAFIS
Papua terletak pada posisi 0° 19' - 10° 45' LS dan 130°
45' - 141° 48' BT, menempati setengah bagian barat dari New Guinea yang
merupakan pulau terbesar kedua dari Greenland. Secara phisik, Papua merupakan
Propinsi terluas di Indonesia, dengan luas daratan 21,9% dari total tanah
seluruh Indonesia yaitu 421.981 km2, membujur dari barat ke timur
(Sorong-Jayapura) sepanjang 1,200 km (744 mile) dan dari utara ke selatan
(Jayapura- Merauke) sepanjang 736 km (456 mile). Selain tanah yang luas, Papua
juga memiliki banyak pulau yang berjejer disepanjang pesisirnya. Dipesisir
utara terdapat pulau Biak, Numfor, Yapen dan Mapia. Disebelah barat pulau
Salawati, Batanta, Gag, Waigeo dan Yefman. Dipesisir Selatan terdapat pulau
Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan di bagian timur berbatasan
dengan Papua Guinea.
3.
IKLIM
Papua terletak tepat di sebelah selatan garis katulistiwa,
namun karena daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat
bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Di daerah pesisir barat dan utara
beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 -
7.500 mm pertahun. Curah hujan tertinggi terjadi dipesisir pantai utara dan di
pegunungan tengah, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai
selatan. Suhu udara bervariasi sejalan dengan bertambahnya ketinggian. Untuk
setiap kenaikan ketinggian 100 m ( 900 feet ); secara rata-rata suhu akan
menurun 0,6°C.
4.
TOPOGRAFI
Keadaan topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah
berawa sampai dataran tinggi yang dipadati dengan hutan hujan tropis, padang
rumput dan lembah dengan alang- alangnya. Dibagian tengah berjejer rangkaian
pegunungan tinggi sepanjang 650 km. Salah satu bagian dari pegunungan tersebut
adalah pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena disana terdapat 3 puncak
tertinggi yang walaupun terletak didekat kathulistiwa namun selalu diselimuti
oleh salju abadi yaitu puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030m (15.090 ft);
puncak Trikora 5.160 m (15.480 ft) dan puncak Yamin 5.100 m (15.300 ft).
Sungai-sungai besar beserta anak sungainya mengalir ke arah selatan dan utara.
Sungai Digul yang bermula dari pedalaman kabupaten Merauke mengalir ke Laut
Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten
Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai
tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat sepanjang alirannya baik
sebagai sumber air bagi kehidupan sehari-hari, sebagai penyedia ikan maupun
sebagai sarana penghubung ke daerah luar. Selain itu terdapat pula beberapa
danau, diantaranya yang terkenal adalah Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur,
Danau Tigi dan Danau Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai.
5.
KONDISI
TANAH
Di Papua terdapat 6 jenis tanah utama dari 19 jenis tanah
yang terdapat di Indonesia, yaitu Podsolik Merah Kuning, Organosol, Alluvial,
Latosol, Rensina, Mediteran. Dari sekitar 41,066.000 Ha luas tanah Papua dapat
di klasifikasikan kedalam 2 kelompok besar yaitu: areal berhutan, belukar dan
alang-alang seluas 40.045.250 Ha atau 97,51 %, areal pertanian, perkebunan,
peternakan, pemukiman dan lain-lain 1.020.800 Ha atau 2,49 %.
6.
PENDUDUK
DAN ANGKATAN KERJA
Walaupun Papua merupakan Propinsi yang terbesar di
Indonesia, namun jumlah penduduknya adalah paling sedikit. Berdasarkan hasil
survey penduduk antar sensus (SUPAS) 1995, jumlah penduduk Papua sebanyak
1.942.627 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan 3,03 % pertahun, sedangkan pada
tahun1999 sesuai proyeksi penduduk, jumlah tersebut telah berkembang menjadi
2.165.300 jiwa. Apabila dikaitkan dengan luas wilayahnya maka kepadatan
penduduk Papua hanya 5 jiwa/km?. Penduduk asli Papua terdiri dari beragam etnik
dan yang sudah teridentifikasi sebanyak 250 kelompok etnik. Mereka hidup secara
berkelompok dalam unit-unit kecil, saling terpisah dan memiliki adat, budaya
dan bahasa sendiri. Jumlah angkatan kerja Papua pada tahun 1999 tercatat
sebanyak 988.588 orang dan 93,58 % diantaranya tercatat sebagai pekerja
(mempunyai pekerjaan). Sedangkan pencari kerja yang tercatat di Depnaker pada
tahun 1999 sebanyak 80.481 orang.
7.
SOSIAL
BUDAYA, SUKU DAN ADAT ISTIADAT
Pada daera-daerah Papua yang bervariasi topografinya
terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling
berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadatnya maka
sacara garis besar penduduk Papua dapat di bedakan menjadi 3 kelompok besar
yaitu:
·
Penduduk daerah pantai dan kepulauan
dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung); mata pencharian
menokok sagu dan menangkap ikan.
·
Penduduk daerah pedalaman yang hidup
pada daerah sungai, rawa, Danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya
bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan.
·
Penduduk daerah dataran tinggi dengan
mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana.
Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan
yang menganut garis ayah atau patrilinea.
8.
BAHASA
Di Papua terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada
kelompok etnik yang ada. Keaneka ragaman bahasa ini telah menyebabkan kesulitan
dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya.
Oleh karena itu bahasa Indonesialah yang digunakan secara umum oleh
masyarakat-masyarakat di Papua bahkan sampai dipelosok-pelosok pedalaman.
9. AGAMA
Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting
bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama,
Papua dapat dijadikan contoh bagi daerah lain. Mayoritas penduduk Papua
beragama Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya transportasi
dari dan ke Papua maka jumlah orang yang beragama lain termasuk Islam juga
semakin berkembang. Banyak misionaris baik asing maupun Indonesia yang
melakukan misi keagamaannya di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka memainkan
peran penting dalam membantu masyarakat baik melalui sekolah-sekolah
misionaris, pengobatan-pengobatan maupun secara langsung mendidik masyarakat
pedalamandalam bidang pertanian, mengajar bahasa Indonesia maupun
pengetahuan-pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor
dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum
terjangkau oleh penerbangan reguler.
10. FLORA DAN
FAUNA
·
FLORA
Matoa (Pometia pinnata)
adalah tanaman khas Papua, termasuk ke dalam famili Sapindaceae. Pohon matoa
dapat tumbuh tinggi dan memiliki kayu yang cukup keras. Rasa buahnya adalah
campuran antara rambutan, durian, dan kelengkeng. Buahnya berbentuk lonjong dan
seukuran buah pinang (keluarga Palem), ketika muda berwarna hijau dan setelah
matang berwarna hijau kekuningan atau coklat kehitaman.
Tumbuhan ini
adalah flora identitas Provinsi Papua Barat. Di Papua, pohon matoa bisa
tumbuh sampai dengan diameter pelukan tiga orang dewasa. Buah Matoa (Pometia
pinnata) adalah buah khas asli Papua. Rasa buah ini manis seperti buah
rambuatan atau buah kelengkeng. Pohon matoa tumbuh tinggi, dan kayu nya bisa
untuk mebel atau kusen – kusen rumah. Buah ini merupakan buah musiman yang
berbuah pada bulan September – Oktober. Matoa tumbuh di seluruh wilayah
kepulauan Cenderawasih.
·
FAUNA
Burung
Cendrawasih layak digelari sebagai Burung Surga (Bird of Paradise). Burung
Cendrawasih yang merupakan burung khas Papua, yang teridentitas di Provinsi
Papua Barat, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu yang indah
layaknya bidadari yang turun dari surga (kayangan). Keindahan bulu Cendrawasih
tiada duanya.
Burung
Cendrawasih merupakan sekumpulan spesies burung yang dikelompokkan dalam famili
Paradisaeidae. Burung yang hanya terdapat di Indonesia bagian timur, Papua
Nugini, dan Australia timur ini terdiri atas 14 genus dan dan sekitar 43
spesies. 30-an spesies diantaranya bisa ditemukan di Indonesia.
Oleh masyarakat
Papua, burung cendrawasih dipercaya
sebagai titisan bidadari dari surga. Dulunya burung ini dianggap sebagai burung
cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turung ke tanah tetapi hanya
berada di udara saja lantaran bulu-bulunya yang indah. Karena itu kemudian
burung Cenderawasih terkenal sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga (Kayangan). Dan beberapa
jenis yang terkenal adalah dari genus Paradisaea yang penamaannya berasal dari kata Paradise.
PROVINSI BALI
Profil
|
Nama Resmi
|
:
|
Provinsi Bali
|
|
Ibukota
|
:
|
Denpasar
|
|
Luas Wilayah
|
:
|
5.780,06 Km2 *)
|
|
Jumlah Penduduk
|
:
|
4.165.115 Jiwa *)
|
|
Suku Bangsa
|
:
|
Bali
|
|
Agama
|
:
|
Islam : 5,2 %, Kristen : 0,8 %, Budha : 0,57
%,Hindu : 93,3 %
|
|
Wilayah Administrasi
|
:
|
Kab.: 8, Kota : 1, Kec.: 57, Kel.:
80, Desa : 636 *)
|
|
Lagu Daerah
|
:
|
Janger
|
|
Website
|
:
|
*) Sumber : Permendagri Nomor 39 Tahun 2015
|
SEJARAH
Pada
permulaannya yang datang di Bali adalah tentara dari kesatuan angkatan
darat Jepang (Rikugua) yang tampaknya lebih kejam, bengis dengan pedang selalu
ditangan, kemudian setelah pemerintahan sipil mulai disusun, yang mengambil
peranan adalah tentara angkatan laut yang disebut kaigen. Pemerintahan sipil
ini disebut Menseibu dengan kepalanya Menseibu Chookan berpusat di Singaraja.
Sistem militer
yang diterapkan disini menyebabkan pemerintah bersifat militer fasis. Pusat
kekuatan militer untuk seluruh Sunda Kecil berada di kota Denpasar dengan
kepala militer tertinggi disebut Sirei.
Dalam hal ini
walaupun bentuknya adalah pemerintahan sipil, namun selalu berada dibawah
pengawasan militer. Setelah pemerintahan sipil dapat diwujudkan aksi propaganda
oleh pemerintah Jepang semakin giat dilakukan. Dalam hal ini dibentuk semacam
barisan propaganda yang disebut Sendenbu Sedenka.
Pada tanggal 15
Agustus 1943, dibentuk semacam Dewan Perwakilan Rakyat (Chuoa Sangai In) untuk
seluruh Indonesia namun khusus di Bali dibentuk pula badan-badan yang disebut
Syu Kaigi, dan para anggotanya disebut Syu Kaigi In serta bukan terpusat di
Singaraja.
ARTI LOGO
Bintang persegi lima melambangkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Candi Pahlawan Margarana
melambangkan Jiwa Kepahlawanan rakyat Bali.
Candi Bentai melambangkan keagungan.
Rantai melambangkan Persatuan.
Kipas melambangkan Kebudayaan Bali.
Bunga Teratai melambangkan Singgasana Cina.
Padi Kapas melambangkan kemakmuran.
NILAI BUDAYA
Hampir sebagian
besar kehidupan masyarakat Bali diwarnai dengan berbagai upacara adat, sehingga
dapat dikatakan kehidupan spiritual masyarakat Bali tidak dapat dilepaskan dari
berbagai upacara ritual. Upacara-upacara diselenggarakan ada yang bersifat
kadangkala, namun ada pula yang dilaksanakan setiap hari.
Oleh sebab itu di Bali dapat
terlihat dibeberapa tempat terdapat sajian-sajian bekas upacara yang mungkin
hanya dilaksanakan secara kecil-kecil saja. Upacara-upacara besar yang
diselenggarakan masyarakat pada umumnya sebagai berikut :
1)
Upacara penyambutan kelahiran, dimulai
dengan upacara Maralekat yaitu pemotongan ari-ari yang disebut kepus pingsit
dan dihubungkan dengan upacara melepas hewan yang menerangkan upacara 12 hari
setelah bayi berusia tiga bulan. Untuk golongan bangsawan tahapan upacaranya
antara lain : Napak Race, Wawa Mijil, Kepus Udel dan Ninglepas Awon. Sedangkan
untuk golongan Bali Aga istilahnya adalah, Tapakan, Kapus Sawen dan Nela Balanu
yang ditambah dengan upacara Ngetus Jambat (cukur rambut).
2)
Upacara turun tanah, pada upacara ini
pertama kali agar anak mengenal watak dengan agama dan tradisi hidup. Pada hari
itu anak tersebut diberi nama dan diberkahi serta boleh menginjak tanah,
sebagian symbol dari dewa-dewa yaitu Brahma, Wisnu dan Sywa.
3)
Upacara
potong gigi
Upacara ini
berlangsung bagi setiap perempuan yang menjelang dewasa, sebagai tradisi lama
yang menggambarkan agar seorang perempuan tidak mirip dengan Leak (yang selalu
menonjolkan giginya), walaupun pelaksanaannya secara simbolik.
4)
Upacara
pernikahan,
dalam tata pernikahan orang Bali mempunyai batasan dengan kastanya, akan tetapi
saat ini terdapat adanya pernikahan antar kasta yang berbeda. Misalnya : apabila
seorang wanita dari kasta Sudra menikah dengan kasta Kesatrya, maka dia tidak
disapa orang lagi dengan langsung menyebut namanya seperti Putu atau Made
melainkan harus dipanggil Jero. Apabila terjadi sebaliknya maka wanita tersebut
kehilangan gelar kekastaannya.
5)
Upacara kematian, dalam hal
kematian khususnya Bali ada jenazah orang yang meninggal tidak dikuburkan
kedalam tanah, melainkan hanya diletakkan diatas tanah pada tempat yang
dianggap sebagai kuburan sampai tinggal tulang belulangnya seperti di Trunyam. Bagi
diletakkan diatas tanah tetapi dibakar yang disebut upacara Ngaben. Digambarkan
bahwa apabila seorang yang meninggal dibakar maka akan meringankan rohnya untuk
masuk ke alam lain. Mayat yang akan dibakar ditempatkan dalam suatu peti mati
yang berbentuk sapi atau garuda. Peti mati berbentuk sapi tersebut berwarna
khusus menurut kastanya. Putih untuk Brahmana, Hitam untuk kasta lain.
FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT SETEMPAT
a)
Ngerajenga Agama Budaya Adat Istiadat Jagat Lan
Sedaging Jagat Rauhin Kepungkur Wekas, yang artinya
masyarakat Bali senantiasa menjaga keajegan/kerukunan agama, adat istiadat
bangsa dan negara dari dulu, kini dan yang akan datang.
b)
Harapan
masyarakat Bali bagi pemimpinya : Sekadi Prabu Weru Kewicaksana Kadi
Singa Kakatakur, Boye Sekadi Sang Mong Kroda, yang
artinya seorang pemimpin harus bersifat adil dan mampu menjaga lingkungannya.
c)
Tri Hita
Karana,
dimana mengandung makna hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama
manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya, dan disamping itu pula dalam
kehidupan bermasyarakat terdapat nilai atau pandangan Menyame Beraye (hubungan
sosial masyarakat) yang menganggap bahwa siapapun yang ada dilingkungan
masyarakat dianggap sebagai saudara termasuk pendatang dari luar Bali.
FLORA DAN FAUNA
§ FLORA
Majegau
yang dalam bahasa latin disebut Dysoxylum densiflorum merupakan flora
(tumbuhan) identitas provinsi Bali mendampingi jalak bali sebagai fauna
identitas. Pohon majegau yang sering disebut juga sebagai cempaga merupakan
anggota famili Maleaceae (suku mahoni-mahonian). Tanaman ini memiliki kualitas
kayunya yang baik sehingga di Bali banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan
(terutama bangunan-bangunan suci) dan sebagai bahan kerajinan ukiran.
Majegau
dikenal dengan beberapa nama yang berbeda di berberapa daerah di Indonesia
seperti kapinango, maranginan, pingku (Sunda), cempaga, cepaga, kraminan
(jawa), majegau (Bali), ampeuluh, kheuruh (Madura), Tumbawa rendai, tumbawa
rintek (Minahasa). Dalam bahasa ilmiah (latin) tanaman ini disebut sebagai
Dysoxylum densiflorum yang bersinonim dengan Dysoxylum elmeri dan Dysoxylum
trichostylum.
§ FAUNA
Jalak
Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang,
dengan panjang lebih kurang 25cm[1], dari suku Sturnidae. Ia turut dikenali
sebagai Curik Ketimbang Jalak.[2] Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di
antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor
dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu,
berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan
betina serupa.
Endemik
Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung
ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991
dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini
dilindungi undang-undang.
Referensi :






