Organisasi
merupakan wadah aktivitas manusia untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini
menunjukan bahwa roda organisasi akan digerakan oleh sekelompok orang dengan
karakteristiknya yang berbeda-beda. Karakteristik manusia yang berbeda-beda
tersebut akan menghasilkan aneka ragam perilaku yang mempengaruhi kinerja
organisasi.
Untuk
menserasikan derap langkah semua orang yang ada di dalam organisasi diperlukan
adanya pemimpin dengan kepemimpinan yang dapat diterima oleh orang-orang yang
tegabung di dalamnya. Kepemimpinan para pemimpin akan sangat menentukan
keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Siagian (1986 : 36)
menyatakan kepemimpinan merupakan inti dari pada manajemen, karena kepemimpinan
merupakan motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat manusia dan
alat-alat lainnya dalam suatu organisasi. Sukses atau gagalnya pencapaian
tujuan suatu organisasi sangat besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan
daripada orang-orang yang diserahkan memimpin organisasi tersebut.
Kepemimpinan adalah
kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang pimpinan organisasi untuk
mempengaruhi para bawahannya agar mereka dapat melaksanakan tugas pekerjaannya
mengarah kepada tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi. Pencapaian tujuan
organisasi akan diselenggarakan oleh banyak orang yang tergabung di dalamnya.
Organisasi akan digerakan oleh sekolompok orang dengan pembagian tugas dan
dikoordinasikan secara berjenjang. Siagian (1986 : 36) menyatakan dalam setiap
organisasi terdapat tiga tingkatan kelompok pimpinan yaitu, top manajemen (administrative
management), kelompok pimpinan tingkat menengah (middle management),
dan kelompok pimpimpinan tingkat bawahan (lower management). Dengan
demikian kepemimpinan setiap orang pemimpin dalam jenjang organisasi dituntut
untuk mempunyai kemampuan tertentu sesuai dengan jenjangnya dalam rangka
mengarahkan pekerjaan bawahan yang dipimpinnya.
KH. Hasyim Asy'ari Sosok Pemimpin
Yang Juga Berperan Sebagai Guru dan Pelayan Bagi Masyarakat
KH Mohammad Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut
penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan
Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan beliau kemudian tutup usia pada
tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng. KH Hasyim Asyari
merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Asyari
merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan
Jombang. KH Hasyim Asyari merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis
keturunan ibunya, KH Hasyim Asyari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka
Tingkir (Sultan Pajang). dari Ayah dan Ibunya KH Hasyim Asyari
mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam
tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti
kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya.
Pengaruh Kiai Hasyim Asy'ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU,
bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani
kewibawaan Kiai Hasyim . Kini, NU pun berkembang makin pesat.
Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan
Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa. Meski sudah menjadi tokoh penting
dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling
dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia
mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau
bekerja sama, tetapi ditolaknya. Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa
awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy'ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H.
Wahid Hasyim , beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat
menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia
tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng. Sesudah Indonesia merdeka,
melalui pidato-pidatonya Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat para pemuda
supaya mereka berani berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan.
Sebagai seorang peminpin beliau dikenal sangat tawadu’ dan
berdedikasi tinggi. Pernah suatu ketika beliau didatangi beberapa ulama besar
untuk turut belajar dan tabarrukan kepada beliau, akhirnya
dengan segala kerendahan hati beliau mengizinkan para ulama tersebut
untuk mengikuti pengajian beliau dengan sayarat para kiyai tidak
diperkenenkan mengurus kebutuhan hidupnya sendiri. untuk menyediakan makanan,
mencuci pakain, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya biarlah ditangani oleh para
santri. Pernah suatu malam terbangunlah salah seorang kiyai dan terkejutlah
beliau ketika menyaksikan bahwa KH.Hasyim Asy’ary sendirilah yang memunguti
pakaian kotor para kiyai dan mencucinya.
Sungguh sosok pemimpin seperti inilah yang
dibutuhkan rakyat. Pemimpin yang tidak hanya memanfaatkan kedaulatannya untuk
diri sendiri dan secara terselubung menindas rakyat, tapi peminpin juga
berperan sebagai guru bagi rakyatnya dan manpu memberi pekerti dan suri
tauladan yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar