Kamis, 17 Oktober 2013

Nadhatul Ulama

            Nadhatul ‘Ulama atau NU adalah suatu organisasi Islam yang berdiri pada 31 Januari 1926. NU bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Tujuan NU adalah menegakan ajaran Islam ditengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NU menganut paham Ahlussunah Waljama’ah (Sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara Rasionalis dan Skripturalis. Oleh karena itu, sumber pemikiran NU tidak hanya dari Al-Qur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.

A.    Sejarah NU
Ketika Gerakan “Kebangkitan Nasional” tahun 1908 rakyat-rakyat pribumi sadar akan ketertinggalan dengan Negara lain, oleh sebab itu banyak rakyat-rakyat pribumi yang mulai membentuk organisasi-organisasi dalam bidang pendidikan, pembebasan, dan lain-lain.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan Kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nadhatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, kemudian Nadhatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran) pada tahun 1918. Dari situ kemudian didirikan Nadhatul Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Karena komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai Kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

B.   Basis Pendukung
Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang
Perlu diperjelas, diantaranya : Anggota, Pendukung atau Simpatisan, serta muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Istilah warga tidak dapat disamakan dengan istilah anggota, karena tidak ada satu pun dokumen resmi yang bias dirujuk mengenai hal tersebut.

Jika dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU.


Dalam refrensi lain, saya menemukan pendapat yang menyatakan bahwa “NU lemah dalam manajemen”. Dalam referensi tersebut K.H hasyim Muzadi selaku Ketua Umum Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) mengatakan :

“Meskipun NU besar dalam jumlah, tetapi NU lemah dalam pengetahuan organisasi.
  Oleh karena itu pengganti saya adalah orang yang memiliki pengalaman manajerial.
  Bagaimana mengelola sekolah NU, rumah sakit NU.”

“NU bukan hanya dalam organisasi, tetapi semangat NU perlu dimaknai dalam
  kehidupan.”

“Ulama dalam NU bukan hanya melihat sosok ulamanya, tetapi ilmu ulama, wawasan
  keulamaan, kepribadian ulama, dan perjuangan ulama ini jauh lebih besar dari
  organisasi NU”

Dari perkataan-perkataan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa :
1.    NU sudah harus mengurus dan memperbaiki seluruh hubungannya, baik hubungan Nasional maupun hubungan Internasional.
2.    Sebagian besar anggota NU masih kurang memahami pengetahuan tentang organisasi, sehingga masih diperlukan perbaikan untuk mengatasinya.
3.    Menekankan akan pentingnya memahami substansi ber-NU.
4.    Untuk masuk ke dalam organisasi NU tidak harus menjadi ulama, yang penting ada niat untuk berprilaku seperti ulama.

Adapun kekuatan dan kelemahan NU dari referensi lain yang saya dapatkan adalah
sebagai berikut :

§  Kekuatan NU
1)  NU memiliki jamaah yang tersebar di seluruh tanah air, bahkan luar negeri, sebagian besar ada di pedesaan, sebagian lagi ada di perkotaan.
2)  Warga NU mudah mengikuti pimpinannya atau ulamanya.
3)  Ajaran NU mudah di terima di masyarakat.
4)  Banyak warga NU, pengurus NU dan kiai NU yang memiliki dan mengelola lembaga pendidikan.
5)  NU yang bersifat moderat memiliki kelenturan dalam bersinggungan dengan tradisi dan budaya lokal yang memungkinkan mudah diterima oleh masyarakat.

§  Kelemahan NU
1)    Dalam kepengurusan NU terdapat kesenjangan yang cukup signifikan antara pelaksanaan program dan rencana yang telah dirumuskan. Kesenjangan tersebut disebabkan oleh lemahnya sikap profesionalitas dan manajemen organisasi.
2)    Lemahnya sistem rekruitmen dalam kepengurusan NU tidak lepas dari kurang berkembangnya pengembangan kemampuan fungsionaris NU dalam proses kaderisasi dan tidak tepatnya cara dan perolehan rekruitmen personal pengurus pada masa lalu.
3)    Sebagai organisasi sosial, NU belum mempunyai rumusan visi sosial yang operasional dan jelas, yang dipahami dan disepakati oleh setiap pemimpin NU di semua level untuk diperjuangkan di semua kesempatan.
4)    Adanya keragaman orientasi politik kader NU mengakibatkan NU rawan konflik kerena pendekatan kekuasaan semata-mata dan orientasi menang-kalah.
5)    Untuk melaksanakan semua program-programnya, NU tidak memiliki sumber dana yang cukup yang dapat diperoleh secara terencana, karena system penggalian dana(fund rising) tidak berkembang dan kurang memperoleh perhatian secara maksimal.

Sumber Referensi :

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar